Sabtu, 15 Agustus 2009

ANALISIS WACANA BUKU TEKS

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Pada mulanya linguistik merupakan bagian dari filsafat. Linguistik modern, yang dipelopori oleh Ferdinand de Saussure pada akhir abad ke-19, mengkaji bahasa secara ilmiah. Kajian lingusitik modern pada umumnya terbatas pada masalah unsur-unsur bahasa, seperti bunyi, kata, frase, dan kalimat serta unsur makna (semantik). Kajian linguistik rupanya belum memuaskan. Banyak permasalahan bahasa yang belum dapat diselesaikan. Akibatnya, para ahli mencoba untuk mengembangkan disiplin kajian baru yang disebut analisiswacana.

Analisis wacana menginterprestasi makna sebuah ujaran dengan memperhatikan konteks, sebab konteks menentukan makna ujaran. Konteks meliputi konteks linguistik dan konteks etnografii. Konteks linguistik berupa rangkaian kata-kata yang mendahului atau yang mengikuti sedangkan konteks etnografi berbentuk serangkaian ciri faktor etnografi yang melingkupinya, misalnya faktor budaya masyarakat pemakai bahasa.

Manfaat melakukan kegiatan analisis wacana adalah memahami hakikat bahasa, memahami proses belajar bahasa dan perilaku berbahasa.

Wacana merupakan satuan bahasa di atas tataran kalimat yang digunakan untuk berkomunikasi dalam konteks sosial. Satuan bahasa itu dapat berupa rangkaian kalimat atau ujaran. Wacana dapat berbentuk lisan atau tulis dan dapat bersifat transaksional atau interaksional. Dalam peristiwa komunikasi secara lisan, dapat dilihat bahwa wacana sebagai proses komunikasi antarpenyapa dan pesapa, sedangkan dalam komunikasi secara tulis, wacana terlihat sebagai hasil dari pengungkapan ide/gagasan penyapa. Disiplin ilmu yang mempelajari wacana disebut dengan analisis wacana. Analisis wacana merupakan suatu kajian yang meneliti atau menganalisis bahasa yang digunakan secara alamiah, baik dalam bentuk tulis maupun lisan.

Untuk itu pada makalah berbentuk analisis ini, penulis akan mengurai suatu wacana dari buku teks bahasa Indonesia kedalam beberapa jenis kajian analisis wacana.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas maka maka penulis merumuskan permasalahan tentang bentuk analisis dari buku teks Bahasa Indonesia kelas 3 SMP.

BAB II

PEMBAHASAN

Sumber: Buku Teks Bahasa Indonesia

3 IX SMP DWI-SEPTI

BAB 8 Artikel I

PURI CIKEAS YANG BERBUNGA-BUNGA

Setelah kembali ke tanah air dari Konferensi Tingkat Tinggi APEC di Sydney, Australia, Senin (10/9) malam, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pulang ke kediaman pribadinya di Puri Cikeas Indah, Gunung Putri, Bogor. Presiden ditemani Ny. Ani Yudhoyono dan putra bungsunya, Edhie Baskoro Yudhoyono, menggunakan waktu untuk beristirahat.

Dinamika politik tanah air yang marak dengan kegiatan partai politik menjelang pemilihan umum legislatif serta pemilihan presiden dan wakil presiden 2009 tidak membuat Presiden “reaktif”. Reaktif adalah ungkapan Yudhoyono di Sydney sebelum kembali ke tanah air. Khusus menanggapi kritik Megawati Soekarnoputri yang menyebutnya “berjanji setinggi langit, tetapi realisasi hanya di kaki bukit”, Presiden Yodhoyono tertawa dan menyebut kritik itu seperti syair lagu yang belakangan ini kerap juga dibuatnya. “Seperti lagu itu,” ujarnya seperti dikutip situs pribadinya, www.presidensby.info.

“Presiden beristirahat setelah empat hari terakhir padat sekali acaranya,” kata Juru Bicara Kepresidenan, Andi Malarangeng.

Di kediamannya yang tenang teduh dan berhalaman luas, tidak ada kegiatan mencolok sepanjang Selasa kemarin. Pemandangan mencolok yang menyita perhatian adalah penuhnya halaman depan kediamannya dengan bunga warna-warni. Pohon rambutan tinggi di halaman depan kediamannya tertutup karangan bunga ucapan selamat ulang tahun ke-58. Ternyata, yang berulang tahun tersebut adalah Presiden sendiri. Presiden lahir di Pacitan, Jawa Timur, 9 September 1949.

Soal dinamika politik, seperti kesediaan Megawati dicalonkan dalam pemilihan presiden, Yudhoyono seperti dikemukakan Andi, menghormati hal itu sebagai hak warga negara. Presiden memilih fokus menjalankan tugas yang masih dua tahun dimandatkan rakyat kepadanya.

Sumber: Kompas, 12 September 2007

Analisis Wacana:

I. Aneka Jenis Wacana:

a. Jenis wacana yang digunakan berdasarkan media yang di yang dipakai untuk mewujudkannya adalah jenis wacana tulis.

b. Jenis wacana yang digunakan berdasarkan langsung tidaknya ungkapan adalah jenis wacana tidak langsung (indirect discourse) karena wacana tersebut dikutip dari surat kabar Kompas edisi 12 September 2007, serta mengungungkapkan kembali wacana dari situs www.presidensby.info.dan pernyataan dari Juru Bicara Kepresidenan, Andi Malarangeng, meskipun tidak mengutip kembali secara harfiah kata-kata oleh pembicara.

c. Jenis wacana yang digunakan berdasarkan tujuan pembuatan wacananya adalah jenis wacana naratif karena menyajikan suatu hal atau kejadian melalui penonjolan tokoh pelaku dengan maksud memperluas pengethuan pendengar atau pembaca. Wacana narasi terbangun oleh beberapa unsur penbangun. Diantaranya adalah:

1) Alur : kejadian, tokoh, dan konflik

Alur yang digunakan adalah alur mundur yang menceritakan kejadian di kediaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Puri Cikeas Indah, Gunung Putri, Bogor yang melibatkan Susilo Bambang Yudhoyono, Ny. Ani Yudhoyono, Edhie Baskoro Yudhoyono, Megawati Soekarnoputri, Andi Malarangeng sebagai tokoh dalam cerita. Dan konflik pada wacan tersebut terdapat pada kalimat;

Khusus menanggapi kritik Megawati Soekarnoputri yang menyebutnya “berjanji setinggi langit, tetapi realisasi hanya di kaki bukit”, Presiden Yodhoyono tertawa dan menyebut kritik itu seperti syair lagu yang belakangan ini kerap juga dibuatnya. “Seperti lagu itu”.

2) Latar

Latar yang digunakan pada kalimat tersebut adalah

· Latar Waktu;

Pada saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beristirahat bersama keluarga.

· Latar Tempat;

Di kediaman pribadi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Puri Cikeas Indah, Gunung Putri, Bogor.

3) Posisi Narator

Posisi narator pada cerita ini adalah sebagai orang ke dua yang menarasikan cerita.

4) Pola Narasi

Meskipun wacana tersebut menarasikan kehidupan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, namun bukan merupakan narasi secara utuh karena dikemas dalam bentuk berita sehingga wacana tersebut tidak secara jelas menggambarkan awal, klimaks, serta anti klimaks.

II. Teks dan Kontek Wacana

a. Teks wacana yang digunakan adalah teks artikel Puri Cikeas yang Berbunga-Bunga.

b. Konteks:

1) Konteks Fisik (physical contex) meliputi tempat terjadinya pemakaian bahasa dalam suatu komunikasi, objek yang disajikan dalam peristiwa komunikasi itu, dan tidakan atau perilaku dari para pemeran dalam komunikasi itu.

Konteks fisik yang membangun wacana diatas adalah kediaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Puri Cikeas.

2) Konteks Epistemis (epystemic contex) merupakan latar belakang pengetahuan yang sama-sama diketahui oleh pembicara maupun oleh pendengar.

Konteks epistemis yang membangun wacana diatas adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta keluarga menggunakan waktu untuk beristirahat.

3) Konteks Linguistik

Konteks linguistik yang mendahului wacana tersebut di atas terdapat pada kalimat;

Setelah kembali ke tanah air dari Konferensi Tingkat Tinggi APEC di Sydney, Australia, Senin (10/9) malam, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pulang ke kediaman pribadinya di Puri Cikeas Indah, Gunung Putri, Bogor.

4) Konteks Sosial

Relasi sosial dan latar setting yang melengkapi hubungan antara pembicara penutur dan pendengar, dalam hal ini adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai kepala negara.

III. Kohesi dan Koherensi

a. Kohesi

Halliday dan Hasan dalam Wahid (1996:76) mengelompokkan sarana-sarana kohesif kedalam lima kategori, yaitu:

1) Pronomina (kata ganti)

Pronomina yang digunakan adalah menggunakan kata ganti Presiden untuk Susilo Bambang Yudhoyono, seperti pada beberapa kalimat berikut:

· Dinamika politik tanah air yang marak dengan kegiatan partai politik menjelang pemilihan umum legislatif serta pemilihan presiden dan wakil presiden 2009 tidak membuat Presiden “reaktif”.

· Presiden beristirahat setelah empat hari terakhir padat sekali acaranya”.

· Ternyata, yang berulang tahun tersebut adalah Presiden sendiri,Presiden lahir di Pacitan, Jawa Timur, 9 September 1949.

· Presiden memilih fokus menjalankan tugas yang masih dua tahun dimandatkan rakyat kepadanya.

2) Subtitusi (penggantian)

Jenis subtitusi yang digunakan adalah jenis subtitusi campuran seperti pada kalimat berikut:

Presiden Yodhoyono tertawa dan menyebut kritik itu seperti syair lagu yang belakangan ini kerap juga dibuatnya.

3) Elipsis adalah peniadaan kata-kata atau satuan lain yang wujud asalnya dapat diramalkan dari konteks bahasa atau luar bahasa (Kridalaksana, 1993:50). Contoh elipsis pada wacana di atas adalah sebagai berikut:

Soal dinamika politik, seperti kesediaan Megawati dicalonkan dalam pemilihan presiden, Yudhoyono seperti dikemukakan Andi, menghormati hal itu sebagai hak warga negara. Presiden memilih fokus menjalankan tugas yang masih dua tahun dimandatkan rakyat kepadanya.

4) Konjungsi

Pada wacana di atas terdapat beberapa jenis konjungsi yang digunakan, diantaranya:

· Konjungsi koordinatif;

Presiden ditemani Ny. Ani Yudhoyono dan putra bungsunya, Edhie Baskoro Yudhoyono, menggunakan waktu untuk beristirahat.

· Konjungsi Adservatif;

“berjanji setinggi langit, tetapi realisasi hanya di kaki bukit”.

· Konjungsi Temporal;

Reaktif adalah ungkapan Yudhoyono di Sydney sebelum kembali ke tanah air.

5) Kohesi Leksikal

(Pada wacana di atas tidak terdapat jenis kohesi leksikal)

b. Koherensi

1) Sarana koherensi wacana yang berupa sinonim atau padanan kata yang terdapat pada wacana adalah:

· Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pulang ke kediaman pribadinya di Puri Cikeas Indah, Gunung Putri, Bogor.

· Dinamika politik tanah air yang marak dengan kegiatan partai politik menjelang pemilihan umum legislatif serta pemilihan presiden dan wakil presiden 2009 tidak membuat Presiden “reaktif”.

· Khusus menanggapi kritik Megawati Soekarnoputri yang menyebutnya “berjanji setinggi langit, tetapi realisasi hanya di kaki bukit”.

· Presiden beristirahat setelah empat hari terakhir padat sekali acaranya,” kata Juru Bicara Kepresidenan, Andi Malarangeng.

· Di kediamannya yang tenang teduh dan berhalaman luas, tidak ada kegiatan mencolok sepanjang Selasa kemarin. Pemandangan mencolok yang menyita perhatian adalah penuhnya halaman depan kediamannya dengan bunga warna-warni.

Dari beberpa contoh dari sarana koherensi wacana yang berupa sinonim atau padanan kata menunjukkan beberapa kata yang bersinonim dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

2) Sarana koherensi wacana yang hubungan sebab akibat yang terdapat pada wacana adalah:

Khusus menanggapi kritik Megawati Soekarnoputri yang menyebutnya “berjanji setinggi langit, tetapi realisasi hanya di kaki bukit”, Presiden Yodhoyono tertawa dan menyebut kritik itu seperti syair lagu yang belakangan ini kerap juga dibuatnya.

3) Sarana koherensi wacana yang hubungan sarana hasil yang terdapat pada wacana adalah:

Di kediamannya yang tenang teduh dan berhalaman luas, tidak ada kegiatan mencolok sepanjang Selasa kemarin. Pemandangan mencolok yang menyita perhatian adalah penuhnya halaman depan kediamannya dengan bunga warna-warni. Pohon rambutan tinggi di halaman depan kediamannya tertutup karangan bunga ucapan selamat ulang tahun ke-58.

4) Sarana koherensi wacana yang hubungan sarana tujuan yang terdapat pada wacana adalah:

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pulang ke kediaman pribadinya di Puri Cikeas Indah, Gunung Putri, Bogor. Presiden ditemani Ny. Ani Yudhoyono dan putra bungsunya, Edhie Baskoro Yudhoyono, menggunakan waktu untuk beristirahat.

5) Sarana koherensi wacana yang hubungan latar kesimpulan yang terdapat pada wacana adalah:

Pohon rambutan tinggi di halaman depan kediamannya tertutup karangan bunga ucapan selamat ulang tahun ke-58. Ternyata, yang berulang tahun tersebut adalah Presiden sendiri. Presiden lahir di Pacitan, Jawa Timur, 9 September 1949.

6) Sarana koherensi wacana yang hubungan sarana penekanan yang terdapat pada wacana adalah:

· (Hasil Analisis Pada Skrip Tidak Ditemukan hubungan sarana penekanan )

7) Sarana koherensi wacana yang hubungan sarana komparasi yang terdapat pada wacana adalah:

· (Hasil Analisis Pada Skrip Tidak Ditemukan hubungan sarana komparasi )

8) Sarana koherensi wacana yang hubungan sarana kontras yang terdapat pada wacana adalah:

Dinamika politik tanah air yang marak dengan kegiatan partai politik menjelang pemilihan umum legislatif serta pemilihan presiden dan wakil presiden 2009 tidak membuat Presiden “reaktif”.

9) Sarana koherensi wacana yang hubungan sarana hasil arau simpulan yang terdapat pada wacana adalah.

Soal dinamika politik, seperti kesediaan Megawati dicalonkan dalam pemilihan presiden, Yudhoyono seperti dikemukakan Andi, menghormati hal itu sebagai hak warga negara. Presiden memilih fokus menjalankan tugas yang masih dua tahun dimandatkan rakyat kepadanya.

10) Sarana koherensi wacana yang hubungan sarana hasil atau simpulan yang terdapat pada wacana adalah:

· (Hasil Analisis Pada Skrip Tidak Ditemukan hubungan sarana hasil atau simpulan )

IV. Tindak Tutur

a. Tindak lokusi

Tindak lokusi adalah pengujaran kata atau kalimat dengan makna dengan acuan tertentu. Menurut Lyon dalam Wahid (1996: 139).

Presiden ditemani Ny. Ani Yudhoyono dan putra bungsunya, Edhie Baskoro Yudhoyono, menggunakan waktu untuk beristirahat.

b. Tindak ilokusi

a) Asertif atau Represetitatif

· (Hasil Analisis Pada Skrip Tidak Ditemukan tindak ilokusi Asertif atau represetitatif)

b) Direktif

· (Hasil Analisis Pada Skrip Tidak Ditemukan tindak ilokusi direktif)

c) Ekspresif

· Presiden memilih fokus menjalankan tugas yang masih dua tahun dimandatkan rakyat kepadanya.

d) Komisif

· (Hasil Analisis Pada Skrip Tidak Ditemukan tindak ilokusi komisif)

e) Deklaratif

· Reaktif adalah ungkapan Yudhoyono di Sydney sebelum kembali ke tanah air.

c. Tindak Perlokusi

Contoh tindak perlokusi yang terdapat pada wacana adalah:

Khusus menanggapi kritik Megawati Soekarnoputri yang menyebutnya “berjanji setinggi langit, tetapi realisasi hanya di kaki bukit”, Presiden Yodhoyono tertawa dan menyebut kritik itu seperti syair lagu yang belakangan ini kerap juga dibuatnya.

V. Skemata

a. Skemata adalah pengetahuan yang terkemas secara sistematis dalam ingatan manusia. Skemata itu memiliki struktur pengendalian, yakni cara pengaktifan skemata sesuai dengan kebutuhan. Contoh Skemata pada wacana di atas adalah:

Soal dinamika politik, seperti kesediaan Megawati dicalonkan dalam pemilihan presiden, Yudhoyono seperti dikemukakan Andi, menghormati hal itu sebagai hak warga negara. Presiden memilih fokus menjalankan tugas yang masih dua tahun dimandatkan rakyat kepadanya.

VI. Presuposisi (Praanggapan)

Presuposisi (Praanggapan) syarat yang diperlukan bagi benar tidaknya suatu kalimat.

Contoh presuposisi pada wacana di atas adalah:

“Presiden beristirahat setelah empat hari terakhir padat sekali acaranya,” kata Juru Bicara Kepresidenan, Andi Malarangeng.

Kutipan dari wacana di atas adalah praanggapan bagi kebenaran kalimat bahwa Susilo Bambang Yudhoyono adalah seorang Presidan dan Susilo Bambang Yudhoyono sangat sibuk.

VII.Implikatur

b. Maksim kualitas menuntut seorang penutur untuk memberikan kontribusi yang benar benarkepada mitra tuturnya. Contoh maksim kualitas pada wacana di atas adalah:

Setelah kembali ke tanah air dari Konferensi Tingkat Tinggi APEC di Sydney, Australia, Senin (10/9) malam, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pulang ke kediaman pribadinya di Puri Cikeas Indah, Gunung Putri, Bogor.

c. Maksim kuantitas memerikan kontribusi sebagai informasi yang dibutuhkan untuk maksud yang diinginkan, jangan memberikan kontribusi yang lebih informatif daripada yang dibutuhkan. Contoh maksim kuantitas pada wacana di atas adalah:

“Presiden beristirahat setelah empat hari terakhir padat sekali acaranya,” kata Juru Bicara Kepresidenan, Andi Malarangeng.

d. Maksim relevansi mamberikan kontribusi yang relevan. Contoh maksim relevan pada wacana di atas adalah:

Soal dinamika politik, seperti kesediaan Megawati dicalonkan dalam pemilihan presiden, Yudhoyono seperti dikemukakan Andi, menghormati hal itu sebagai hak warga negara.

e. Maksim cara Dalam jenisnya, maksim ini menspesifikasikan partisipan apa yang dilakukan selain untuk membalik sebuah efisiensi secara maksimal, rasional. Contoh maksim cara pada wacana di atas adalah:

“Presiden beristirahat setelah empat hari terakhir padat sekali acaranya,” kata Juru Bicara Kepresidenan, Andi Malarangeng.


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas maka dapa di tarik kesimpulan bahwa:

a. Tidak semua teks yang terdapat dalam wacana menduduki satu fungsi dalam kajian analisis wacana.

b. Terdapat beberapa teks yang menduduki beberapa fungsi dalam kajian analisis wacana.

c. Ada beberapa bagian dari kajian analisis wacana yang tidak terdapat dalam teks.

B. Saran

Berdasarkan simpulan di atas, diajukan beberapa saran sehubungan dengan makalah ini, sebagai berikut;

  1. Hendaknya ke depan pengembangan penulisan tentang Analisis wacana lebih ditingkatkan dan dikembangkan lagi.
  2. Diharapkan kepada mahasiswa Program Pascasarjana UNM agar tetap mengkaji analisis wacana meskipun tidak berada pada konteks perkuliahan.

Selanjutnya, semoga makalah ini dapat menambah wawasan bagi pembaca dalam memperkaya khazanah pengetahuan.

DAFTAR PUSTAKA

Dwi, Septi. Buku Teks Bahasa Indonesia 3 IX SMP.

Wahid, Sugira. 1996. Analisis Wacana. Makassar: IKIP Ujung Pandang.

Kridalaksana, HarimurtI. 1993. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar