Catatan Perjalanan
Amanah
Dari kediaman indah istana
Melangkah turun temurun garismu
Putus harapan pada kenikmatan sesaat
Pesan pusaka kabur
Luluh lantah amanah titipan
Titipanmu Ibu
“Ana’
Musalai sarafo bola
Muwilai wanua ajajingemmu
Tuntu’ ko paddissengeng
Muancaji tau tongeng ri tengngana tau maega e
Paddupai ada tongeng ri tengngana ada-ada e”
Kebohongan warnai panggung pengharapan
Melangkah di atas pusara pesan yang kau titip
Tinggal terawang genggam titipan amanah
Inikah penyesalan?
Kesalahanku ibu?
“Indo’
Rennu kiantara pole ri posi bola
Rennu ki’ na kiantara’ ka’
Rennu kiantara’ pole ri pong attanengeng
Napettu rennu ri colli’ na
Sajang rennu
Sajang rennu
Ri ada gau’ mallomo”
Makassar 2002
Amal Akbar
KETIKA PEREMPUAN MENJADI BETINA
LELAKI MENJADI PEJANTAN MURAHAN
Saat keagungan datang menyapa keindahan yang berasal dari sanjung puji, tiba-tiba jiwa besar menyombongkan diri seiring terbitnya rona merah di pipi ketidak sadaran yang melambung tinggi. Itulah kenikmatan sesaat yang mengalun seiring lantunan himne-himne kebahagiaan, itulah keindahan yang akan membawa kalian melayang hingga lupa kembali ke daratan jiwa yang sadar dan insyaf.
Tapi,
Tapi saat kalian dilena buaian lentik jemari gemuruh kalianpun tidak sadar telah jatuh ke lingkaran bayangan gelap tak bertepi, saat itu pula kalian akan terlena dalam nyanyian kesunyian dengan judul hati yang luka. Kalian pun akan terbenam ke dasar pusara jiwa yang mandul.
Saat itu pula kuncup kebahagiaan menjadi sebuah kemustahilan, senyumpun akan menjadi fatamorgana.
Makassar
Amal Akbar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar