Minggu, 16 Agustus 2009

Catatan Perjalanan

Amanah

Dari kediaman indah istana

Melangkah turun temurun garismu

Putus harapan pada kenikmatan sesaat

Pesan pusaka kabur

Luluh lantah amanah titipan

Titipanmu Ibu



“Ana’

Musalai sarafo bola

Muwilai wanua ajajingemmu

Tuntu’ ko paddissengeng

Muancaji tau tongeng ri tengngana tau maega e

Paddupai ada tongeng ri tengngana ada-ada e”

Kebohongan warnai panggung pengharapan

Melangkah di atas pusara pesan yang kau titip

Tinggal terawang genggam titipan amanah

Inikah penyesalan?

Kesalahanku ibu?

“Indo’

Rennu kiantara pole ri posi bola

Rennu ki’ na kiantara’ ka’

Rennu kiantara’ pole ri pong attanengeng

Napettu rennu ri colli’ na

Sajang rennu

Sajang rennu

Ri ada gau’ mallomo”

Makassar 2002

Amal Akbar

KETIKA PEREMPUAN MENJADI BETINA

LELAKI MENJADI PEJANTAN MURAHAN

Saat keagungan datang menyapa keindahan yang berasal dari sanjung puji, tiba-tiba jiwa besar menyombongkan diri seiring terbitnya rona merah di pipi ketidak sadaran yang melambung tinggi. Itulah kenikmatan sesaat yang mengalun seiring lantunan himne-himne kebahagiaan, itulah keindahan yang akan membawa kalian melayang hingga lupa kembali ke daratan jiwa yang sadar dan insyaf.

Tapi,

Tapi saat kalian dilena buaian lentik jemari gemuruh kalianpun tidak sadar telah jatuh ke lingkaran bayangan gelap tak bertepi, saat itu pula kalian akan terlena dalam nyanyian kesunyian dengan judul hati yang luka. Kalian pun akan terbenam ke dasar pusara jiwa yang mandul.

Saat itu pula kuncup kebahagiaan menjadi sebuah kemustahilan, senyumpun akan menjadi fatamorgana.

Makassar

Amal Akbar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar