BAHASA DAN PIKIRAN
(LANGUAGE AND THOUGHT)
Bahasa tidak pernah berada dalam suatu kevakuman. Bahasa dibentuk dan dikembangkan oleh suatu sistem yang terdapat dalam otak manusia. Karena bahasa berfungsi menyampaikan gagasan, maka struktur dan fungsi bahasa haruslah mampu mengemban gagasan-gagasan tersebut.
A. Kesemestaan dan Relativitas (Universal and Relativity)
Pada abad yang lalu, telah diketahui bahwa kaidah/sistem yang dimiliki oleh bahasa meliputi dua bidang, yaitu: (a) kesemestaan bahasa, dan (b) relativitas bahasa. Pada dasarnya, semua bahasa memiliki sifat-sifat atau ciri-ciri yang sama. Ciri-ciri ini disebut ciri semesta bahasa atau ciri kesemestaan bahasa. Tetapi disamping bahasa memiliki ciri kesemestaan, maka tiap bahasa memiliki ciri khusus yang tidak terdapat pada bahasa yang lain, baik bentuk maupun makna. Mengapa demikian? Karena bahasa tidak hanya berfungsi sebagai media berfikir, tetapi juga sekaligus sebagai pola berfikir manusia. Pola berfikir manusia itu ditentukan oleh berbagai faktor, antara lain; faktor budaya, filsafat, lingkungan atau teknologi.
B. Spesialisasi Biologis (Biological Specialization)
Telah lama diketahui orang bahwa pada dasarnya hanya makhluk manusia yang memiliki bahasa (menurut pengertian lingusitik), sehingga dikatakan bahwa manusia adalah binatang rasional. Pandangan ini didasarkan pada hipotesis yang menyatakan, bahwa kemampuan manusia untuk berbahasa berbeda dengan kemampuan binatang di dalam berkomunikasi (Lennberg, 1967). Hipotesis ini berpatokan pada dua asumsi, yang pertama bahwa perbedaan utama manusia dengan makhluk lain yang secara relatif dekat dengan sifat manusia hanyalah dalam kemampuan bawaan manusia untuk berbahasa, kedua bahwa bahasa manusia berbeda dengan sistem berbahasa makhluk hewani
a. Faktor fisiologis dalam bahasa (Physiological Factors in Language)
Ciri-ciri khas fisiologi manusia disesuaikan dengan kemampuan berkomunikasi dengan bahasa, yang menjadi pertanyaan penting apakah ciri-ciri ini khusus untuk bahasa itu sendiri atau ciri-ciri khusus itu merupakan bagian dari kemampuan terbesar manusia pada umumnya untuk berpikir. Ciri-ciri utama yang membedakan manusia dengan makhluk yang relatif hampir sama dengan manusia (simpanse) ada dua kategori: yaitu kategori pinggiran (ciri artikulasi) dan kategori pusat (pusat urat syaraf) (Lennberg,1967).
Pada umumnya bahasa manusia itu ditempatkan pada sebelah kiri otak. Banyak bukti tentang literalisasi ini yang berasal dari kajian-kajian mengenai kelukaan otak di sebelah kiri yang disebabkan oleh kecelakaan, strok, tumor, dan penyakit tertentu. Kelukaan ini biasanya tidak menghalngi beberapa kemampuan berbahasa dimana jenis dan tingkat hambatannya berdasarkan tempat dan kerasnya luka itu (Lennberg,1967, Gesch Wind, 1970). Bukti lain mengenai literalisasi berasal dari kecepatan dan ketepatan manusia mengidentifikasi bunyi bahasa yang didengar baik pada telinga kiri maupun telinga kanan. Bahasa ditempatkan pada otak sebelah kiri yang melalui telinga kanan diproses lebih berat dari bahasa yang diberikan pada sebelah kanan melalui telinga sebelah kiri (Kimara, 1973).
b. Bahasa simpanse (Language in the Chimpanzee)
Telah lama menjadi spekulasi orang apakah binatang yang mendekati sifat manusia (seperti simpanse) ingat dapat belajar berbicara. Beberpa penelitian telah dicoba dengan tidak sempurna agar simpanse dapat menciptakan kata-kata. Tetapi tidak sepenuhnya menyadari kenyataan bahwa seluruh bicara simpanse cukup berbeda dengan saduran suara manusia yang tidak mungkin mengucapkan bahasa lisan yang sebenarnya. Persoalan saluran suara simpanse telah dihindari dan penelitian sekarang melalui bahasa visual baik dalam kata-kata atau gerak isyarat yang berdasarkan bahasa isayarat orang tuli seperti yang dilakukan oleh (Premack, 1971).
Bahasa isyarat (Sign Language)
Bahasa visual alamiah jelas memberikan keuntungan daripada bahasa buatan sehingga penliti lain telah mengganti American Sign Language (Ameslan) dengan bahasa isyarat yang digunakan oleh orang tuli. Keterampilan tangan simpanse begitu lebih unggul daripada keterampilan suara. B. Gardner dan R. Gardner (1969, 1971, 1975) telah memulai penelitian ini dengan seekor simpanse yang berumur satu tahun yang diberi nama Washoea dan Watt (1974).
Hasil penelitian itu kemudian menunukkan dengan jelas bahwa simpanse dapat menguasai beberapa hubungan kompleks yang dinyatakan dalam bahasa alamiah dan diberikan bahasa isyarat seperti Ameslan, maka mereka mulai memperoleh bahasa sebanyak yang diperoleh anak kecil. Tetapi perunjukan/domonstrasi ini menimbulkan banyak pertanyaan yang terjawab, misalnya; Berapa jumlah bahasa yang dapat dipelajari oleh simpanse? Apakah simpanse yang dididik berdasarkan bahasa Amselan secara spontan dipindahkannya kepada anaknya? Apakah simpanse memakai Ameslan untuk berkomunikasi dengan sesamanya dengan cara yang sama? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak pernah akan terjawab untuk beberapa tahun.
C. Kategori Perseptual (Perseptual Categories)
Berdasarkan pada spesialisasi biologis, maka dianggap bahwa bahasa berhubungan erat dengan kemampuan kognitif lainnya. Tetapi bagaimanakah keterkaitannya itu? Pertanyaan ini dapat dijawab dengan benar melalui penguraian kesemestaan bahasa itu sendiri. Hal ini tidak hanya sekadar dilihat dari sudut kemampuan manusia melakukan presepsi/menerima, menggolongkannya dan menggunakannya dalam sistem masyarakat. Kesemestaan bahasa kemungkinan bersumber dari kemampuan manusia menyusun dan menggolongkan informasi perseptual.
1) Kerumitan ekspresi (Complexity of Expression)
Ciri ciri kesemestaan bahasa tidaklah terletak pada bunyi, kata dan frase, tetapi juga jauh lebih abastrak. Kesemestaan utama berkenaan dengan komiditas yang disebut kerumitan ekspresi. Hal ini menunjukkan bahwa semakin luas pembicaraan, semakin kompleks ekspresi dan semakin kompleks pula pemantulan pikiran. Gejala kerumitan ekspresi ini sering ditandai oleh pemarkah gramatikal.
(1) Penambahan morfem
Untuk menyatakan jamak dalam bahasa Inggris diberikan pemarka –s, atau pemarkah un- untuk menyatakan yang degatif.
(2) Netralisasi kontekstual
Apabila suatu pemarkah, mencakup dua pengertian, maka pemarkah itu lebih kompleks, misalnya;
actress à untuk wanita
actor à untuk pria dan wanita
dengan demikian actor lebih komplesk daripada actress.
Pemakaian kategori ini dan kategori lainnya, peneliti seperti Greenberg telah berubah dalam banyak bahas yang tidak sekeluarga untuk kategori-kategori yang secara semesta atau yang pada umumnya semesta, paling tidak eksprese yang kompleks. Kriteria ini telah berhasil terutama dalam menemukan dasar-dasar istilah warna.
2) Istilah Warna Dasar (Basic Color Terms)
Telah lama sarjana meyakinkan bahwa bahasa membagi spektrum warna sewenag-wenang. Sekarang, Berlin dan Kay (1969,1975), dua sarjana Anthropologi ini menemukan bahwa penamaan warna jauh lebih sewenang-wenang. Mereka mengemukakan yang demikian itu dengan menguraikan bahasa-bahasa yang mereka sebut dengan istilah warna dasar (basic color terms). Berlin dan Kay memakai empat kriteria utama untuk mengidentifikasikan istilah warna dasar untuk tiap bahasa. Warna dasar itu diberikan nama berdasarkan;
a) tiap warna hanya terdiri dari satu morfem misalnya red dan bukan lebih dari satu seperti; light-red atau bload-red.
b) Tiap nama tidak boleh lebih dari satu warna, misalnya; scarlet (merah tua), merah padam.
c) Tidak terbatas pada sebagian kecil obyek, misalnya; blond (pirang) hanya untuk rambut atau beberapa obyek lainnya.
d) Istilah itu harus umum dan dikenal secara umum, misalnya yellow dan bukan saffron.
Berdasarkan hasil penelitian mereka, maka Berlin dan Kay menemukan bahwa tiap bahasa mempunyai istilah warna dasarnya masing-masing, seperti dikemukakan sebelas nama warna berikut ini; black, white, red, yellow, blue, broen, purple, pink, orange dan gray. Dalam dunia bahasa, luar biasa seragamnya dalam perlakuan mereka dalam warna.
Sistem Visual (The Visual System)
Tetapi mengapa ada kerawanan dalam warna mencolok? Pertanyaan ini tidak diragukan lagi bahwa hal ini terletak pada fisiologi sistem visual manusia (Mc. Daniel, 1974). Teori kontras visi warna dari Hering menyatakan, bahwa mata memiliki tiga proses kontras; (1) yang cemerlang (hitam-putih); (2) warna-warni (merah-hijau) dan (3) kuning biru. Ketika cahaya mengenai mata, maka tiap pasangan kontras mereaksi dengan bermacam-macam nilai dan positif ke negatif dan gabungan dari ketiga nilai yang menghasilkan sensasi warna yang tepat.
Karena itu, kesemestaan istilah warna yang tepat keterangan yang masuk akal. Tiap fisiologi sistem visual manusia membuat beberapa warna yang lebih menonjol dari yang lain. Kesimpulan yang dapat ditarik dari uraian di atas yaitu; peristilahan warna adalah semesta karena sistem visual manusia adalah semesta.
3) Nama-nama Kategori Dasar (Basic Category Names)
Roger Brown (1958) telah meneliti, bahwa walaupun semua obyek memiliki lebih dari satu nama, tetapi orang selalu membicarakan nama obyek itu, misalnya; buah apple disebut juga a frui, a thing, a object, a Golden Delicious apple, dan Amanda’s dessert apple adalah nama dasarnya. Menurut Brown, apple merupakan tingkat abstraksi yang manfaatnya paling besar.
Dalam kajian biologi, manusia memberi nama tumbuh-tumbuhan dan binatang. Berlin dan teman-temannya telah berkesimpulan bahwa semua orang membagi dunia dan tumbuh-tumbuhan dan kewan itu ke dalam kategori-kategori, dimana tiap kategori diberi nama. Kategori-kategori ini disusun secara berjenjang dengan lima (kadang-kadang enam) tingkat abstraksi:
(1) Permualaan unik (uniqne beginner): tumbuh-tumbuhan, binatang.
(2) Bentuk hidup; pohon, bunga.
(3) Nama generik; cemara mapel (sejenis pohon)
(4) Nama khusus; cemara putih, cemara hijau
(5) Nama varitas; cemara penderosa utara.
Tiap tingkatan, kategoti-kategori itu saling menyisihkan-mereka tidak bisa bertumpang tindih. Pada tiap kategori termasuk ke dalam kategori yang ada di atasnya yang lebih abastrak.
4) Istilah yang Berhubungan dengan Ruang (Spatial Terms)
Dimensi Alamiah (Natural Dimensions)
Menentukan nama dimensi adalah jauh dari arbitrer yang disesuaikan dengan alat presepsi manusia. Pada hakekatnya ada dimensi yang ditentukan oleh tarikan gravitasi, hanya secra vertikal, dan ada juga dengan ruang refrensi alamiah, hanya pada tingkat dasar. Tingkat dasar ‘graound level’ dipakai dalam pencocokan; menyesuaikan sesuatu seperti; tinggi atau rendah, kecuali bebrapa ruang referensi lain menggantikannya. Hal ini biasanya diambil nol tinggi (height zero).
Obyek umum juga mempunyai dimensi alamiah. Tubuh manusia mempunyai keterbatasan secara biologis dan mempunyai ruang simetris yang jelas secara presepsi. Pembatasan dimensi ini berdasarkan kiri dan kanan. Ketika orang berdiri badan tegak lurus, maka ia mengenal up dan down disamping ia mengenal front dan back. Bahasa Inggris dan seperti halnya bahasa-bahasa lainnya mempunyai banyak istilah relasionalnya untuk atas-bawah, depan-belakang dan kiri-kanan. Dimensi di keliling tepat di bagian badannya seperti kepala, muka, belakang, atas, samping; seperti a.l. ahead, in front, in back, on top, beside(lihat Friedrich, 1970). Istilah-istilah ini kemudian ditransfer menjadi vertikal, muka-belakang.
D. Kategori Kognitif (Cognitive Categories)
Kategori kognitif ini akan mmbicarakan tentang jumlah, kenegatifan, sebab dan akibat, dan waktu. Pada umumnya hal ini bersumber dari karya Greenberg (1966) yang memakai dua kriteria dalam kerumitan ekspresi, meneliti sejumlah besar bahasa yang tidak sekerabat untuk keteraturan dalam kerumitan. Ia memusatkan diri pada pasangan-pasangan kategori. Salah satu yang dapat diidentifikasinya seperti tertunda secara semesta, atau lebih rumit dibandingkan dengan yang lain.
a. Jumlah/Bilangan (Number)
Semua bahasa mempunyai cara untuk menyatakan benda tunggal dan jamak, misalnya dalam bahasa Inggris dog dan dogs. Bahkan dua obyek (benda), yang berarti ‘two dog’. Bila salah satu bahasa mempunyai dual, maka jamaknya berarti lebih dari dua menggantikan lebih dari satu seperti catatan Greenberg, di dalam bahasa dimana bentuk-bentuk ini berbeda kerumitannya
b. Negasi (Negation)
Negasi mungkin dinyatakan dengan cara lain yang lebih banyak membutuhkan spesifikasi untuk menyatakannya apakah tidak ada daripada menyatakan apakah ada. Warna sebuah kereta tidak akan diuraikan dengan istilah bukan-biru, kuning, orange, hitam, grey dan lembayung, tetapi orang akan mengatakannya secara positif sebagai merah. Orang biasanya memakai bentuk positif daripada bentuk negatif, sehingga mereka dapat mengemukakan sesederhana dan selangsung mungkin.
Positif dan negatif merupakan cara membagi ranah domain (seperti warna) menjadi dua bagian seperti: merah dan bukan merah. Banyak ranah membagi dua yang asli, sehingga rupanya sewenang-wenang mengatakan separuh positif dan separuh lainnya negatif. Namun pada umumnya selalu terdapat ketidaksimetrisan agar dapat menyatakan bagian yang satu positif dan yang lainnya negatif. Hal ini misalnya terjadi pad istilah dimensi seperti tinggi dan rendah, atau dalam dan dangkal. Dalam semua bahasa rupanya lebih banyak diambil positif dan kurang mengambil yang negatif. Hal ini juga terjadi padda istilaah penilaian good selalu dinyatakan secara positif dan bad secara negatif dan tidak pernah dinyatakan sebaliknya (Greenberg, 1966).
c. Sebab dan Akibat (Cause and Effect)
Menurut Greenberg, jika suatu bahasa mempunyai ekspresi yang berbeda dalam kerumitan yang berkembang dengan keadaan, perubahan keadaan dan sebab perubahan keadaan seperti dead, die dan kill. Maka kata-kata itu diberikan ekspresi yang semaikn rumit; keadaan, perubahan keadaan selalu diberi morfem tambahan, seperti: solid-solidity, red-redden. Sama halnya dengan sebab perubahan keadaan dari perubahan keadaan dengan menambahkan afiks, misalnya Dalam bahasa Ingggris, dua peristiwa yang terjadi dapat diuraikan dengan peristiwa pertama adalah subordinasi terhadap yang kedua, atau sebaliknya peristiwa kedua adalah subordinasi dari peristiwa yang pertama seperti dalam kalimat (1) dan (2). Tetapi bila ‘event’ kedua, maka kita harus memakai ekspresi yang sama dengan kalimat (1) dimana ‘event’ pertama (penyebab) adalah subordinasi dari yang pertama terhadap yang kedua seperti dalam kalimat (3). Kalimat-kalimat tersebut adalah sebagai berikut:
(1) John left after Mary insulted Bill.
(2) Mary insulted Bill before John left.
(3) John left because Mary insulted Bill.
d. Waktu (Time)
Semua bahasa mempunyai cara untuk emmbedakan antara kala: kini, lampau dan mendatang, tetapi menurut Greenberg, kala lapau biasanya ditandai pada kala kini dan kala mendatang.
Kala kini : kala lampau
Kala kini : kala mendatang
Dalam bahasa Inggris ketertandaan kala lampau pada kala kini dengan menambahkan morfem sebagai work vs worked,work vs have worked dan ketertandaan kala datang pada kala kini sebagai work vs will work. Dalam banyak bahasa, kala datang dinyatakan sebagai peristiwa hipotetik ‘hypotetical events’ yang dibedakan dengan peristiwa yang sebenarnya ‘actual events’. Pakar linguistik tertentu (boyd dan Tome, 1969) telah mengemukakan bahwa kala mendatang dalam bahasa Inggri merupakan kasus: kata bantu kata kerja dalam will work menyatakan penekana terhadap kata kerja work dan karena itu merupakan hipotetik. Dalam kasus lain seperti Greenberg catat, hipotetik seperti would work selalu ditandai dengan yang berkenaan dengan ‘event’ yang sebenarnya seperti pada work.
E. Kategori Sosial (Social Categories)
Kesemestaan meliputi istilah kategori sosial rupanya berakar dari kondisi sosial dan budaya dimana manusia hidup. Dua kelas utama kategori sosial mungkin dianggap berasal dari karakterisrik semesta keluarga dan percakapan manusia.
a. Istilah Kekerabatan (Kinship Terms)
Istilah kekerabatan telah lama dikaji secra intensif oleh para pakar anthropologi pada berbagai berbagai bahasa dan budaya. Istilah ini dapat diterima sebagi obyek kajian, karena para pakar anthropologi dapat menyusun daftar obyektif untuk tiap istilah yang dipakai manusia (barling, 1970). Misalnya dalam bahas Inggris uncle dipakai untuk saudara ayah, saudara ibu, suami saudara perumpuan ibu.
Semua bahasa membedakan paling kurang tiga karakteristik dalam hubungan famili: generasi, hubungan darah dan jenis kelamin. Semua bahasa memiliki bagian generasi: mereka mempunyai istilah berbeda untuk orang tua, embah, anak-anak, cucu, selain itu, semua bahasa membedakan antara hubungan darah denganhubungan suami/istri dan semua bahasa membedakan jenis kelamin paling tidak beberapa hubungan famili seperti dalam bahasa Inggris mother vs father dan sister vs brother. Karakteristik lain dibedakan dalam beberapa bahasa tetapi tidak dapat dibedakan dalam bahasa lain. Tetapi bahasa memperlakukan sanak keluarga secara berlainan. Pembiasan perlakuan ini terlihat dalam ketertundaan istilah kekerabatan.
b. Kata Ganti Orang (Pronouns)
Walaupun istilah kekerabatan muncul dari sistem keluarga dan perkawinan, namun kata ganti diperlukan dalam konvensi untuk membedakan pembicara (I) dari orang lain atau orang yang dialamatkan (you) dan dari peserta lain (he atau they). Tentu saja sistem kata ganti orang berbeda dalam tiga peranan ini secara umum (Forcheimer, 1953; Ingram, 1971 b). Dan menurut Greenberg (1966) dan Kuylowicz (1964), I adalah tak tertanda terhadap You.
pembicara : si alamat
Sistem kata ganti orang juga selalu berbeda jumlah partisipannya menurut cara terentu atau cara lain, dan mungkin mempunyai bentuk yang berbeda misalnya untuk si alamat tunggal dan si alamat jamak.
Bahasa-bahasa di dunia mungkin mempunyai antara 4 – 15 kata ganti orang, namun bahasa Inggris hanya mempunyai 5 (bila perbedaan penus ‘gender’ diabaikan) yaitu:
I, You, He, We, They.
Pada perangkat ini I dan He adalah tunggal dan We dan They adalah Jamak, sedangkan You dapat tunggal tetapi dapat juga jamak. I dipakai untuk pembicara, You untuk si alamat, He dan They untuk orang ketiga atau benda lain.
F. Pemrosesan Konstrain (Processing Constraints)
a. Kelompok Kata (Word Groups)
Sulit membayangkan suatu bahasa yang ajektif dan kata benda itu mengubah posisi unsur langsungnya secara normal dalam sebuah kalimat seperti dalam bahasa Inggris red car. Karena red dan car menyatakan proporsi yang membuat referensi entiti/sifat yang sama, maka mereka termasuk bersama dalam satu konstituen lahir. Tentu saja bahasa dapat menyesuaikan diri dengan akrab terhadap konstrain ini dengan seluas-luasnya (Greenberg, 1963).
Kelompok kata : apa yang bergabung secara mental ditempatkan bersama dengan rapat secar sistimatis.
b. Urutan Kata (Word Order)
Dengan memperhatikan berbagai contoh yang berbeda dalam bahasa-bahasa di dunia, Greenberg (19688) menemukan suatu rangkaian fakta yang luar biasa tentang urutan kata. Tiap bahasa yang mempunyai kalimat deklaratif yang menyatakan subyek (S) kata kerja (V) dan obyek (O), dan juga banyak bahasa (seperti Latin) memungkinkan S, V dan O terjadi secara bebas dalam urutan mana saja. Dalam bahasa Inggris umumnya SVO. Penemuan pertama Greenberg, bahwa enam urutan S, V dan O yang mungkin, hanya empat yang terjadi dalam bahasa-bahasa di dunia dan salah satu diantaranya sangat langka:
Bahasa-bahasa VO Bahasa-bahasa OV
SVO 35% SVO 44%
VSO 19%
VOS 22%
Presentase ini dari Ultah (1969) yang hanya merupakan petunjuk kasar untuk frekuensi relatif keempat jenis ini. Greenberg tidak menumukan bahasa-bahasa OVS dalam OSV yang dikuatkan oleh sarjan yang lain (Pallum, 1977)
c. Paradigma (Paradigms)
Semua bahasa mempunyai paradigma. Dalam bahasa Inggris kata kerja memiliki paradigma dimana tiap kata kerja mempunyai bentuk kala; kala kini dan kala lampau. Kala lampau biasanya dibentuk dengan menambah –ed pada bentuk kala kini, namun ada beberapa kekecualian, misalnya work-worked (bentuk teratur) dan bentuk tak teratur (kekcualian) build-buils. Dengan demikian dibuat kaidah:
Paradigma: Bahasa mengistimewakan paradigma yang teratur.
Jelas sekali, bahwa paradigma mempunyai keuntungan dalam menghasilkan dan memahami wicara. Pertama, kata kerja kala lampau, lebih mudah direncanakan dan dihasilkan jika semua orang harus mengingat, bahwa ditambahkan –ed pada bentuk kala kini (McKay, 1976). Kedua, dalam pemahaman kata kerja lebih mudah diidentifikasikan seperti halnya dalam bentuk kala lampau. Terakhir, sangat ekonomis dan mungkin inilah yang menyebabkan mengapa bahasa bergerak ke arah ini.
G. Ragam Bahasa (Language Variation)
Variasi dalam Kosa Kata (Variation in Vocabulary)
Burling (1970) telah membandingkan kosa kata tertentu bahasa Garo (Burma) yang sepadan dengan bahasa Inggris dan ternyata telah menumukan beberapa perbedaan yang jelas. Misalnya bahasa Garo mempunyai banyak kata yang sepadan dengan bahasa Inggris ‘carry’. Pemakaian mereka berdasarkan pada bagaimana benda itu dipegang dan dibawa (di atas kepala, di atas bahu, di tangan, dengan keranjang dsb.) dan berdasarkan tujuan barang itu dibawa.
Hal ini rupanya cukup jelas mengapa bahasa Garo dan bahasa Inggris berbeda dalam hal ini. Rice merupakan hal kritis dalam kelangsungan hidup pemakai bahasa Garo, karena itu perbedaan terinci mengenai rice sangat penting dari segi ekonomi dan sosial. Basket ‘keranjang’ merupakan alat utama dalam transportasi, sehingga keranjang dan cara membawa benda itu penting dibedakan. Walaupun ants ‘semut’ tidak penting dari segi ekonomi, mempunyai sauatu varitas dalam alam penghidupan yang berpusat pada pertanian ketimbang masyarakat industri. Menurut Berlin dan Kay (1969) semakin menjadi masyarakat industrialis, maka semakin banyak istilah warna dasar yang dikenal.
H. Bagaimana Bahasa Mempengaruhi Pikiran? (How Does Language Affect Thought?)
Selama ini, bahasa dan pikiran hanya dilihat dari satu arah: bagaimana pikiran mempengaruhi bahasa. Tetapi barangkali hipotesis yang paling terkenal dalam bidang ini yaitu hipotesis Sapir-Whorf tentang relativitas bahasa, yang justru mengklaim justru sebaliknya bahasa-bahasa mempengaruhi pikiran manusia. Menrutu Whorf, tiap bahasa membebankan kepada pembicaranya suatu pandangan dunia tertentu. Pandangan ini didasarkan pada perbandingan bahasa-bahasa Eropah mayor dengan beberapa bahasa Inddian Amerika seperti bahasa: Nopi, Aztec, Nootka, dan Apache. Ia berpendapat bahwa pandangan dunia bahasa-bahasa Indian membebandak kepada pembicaranya; berbeda denganpandangan dunia bahasa-bahasa Eropah yang dibebankan padanya.
Sayangnya, eviden bagi hipotesis Sapir-Whorf telah menjadi samar-samar. Karya Whorf sendiri mengandung kelemahan pada contoh terakhir. Dari anekdotnya itu tidak mungkin dapat menceriterakan apakah bahasa Indian atau bahasa Eropah memilih-milih alam berlainan atau tidak. Tes langsung hipotesis itu telah berjalan/berkembang dengan kurang baik. Beberapa karya terakhir ini, misalnya menguraikan bagaimana presepsi dan ingatan untuk warna dipengaruhi oleh perbedaan terminologi warna (lihar R. Brown dan Lenneberg, 1954, Lenneberg dan Robert, 1956). Bagaimanapun kajian ini menganggap bahwa cara bahasa memilih ranah warna adalah arbitrer, dan dengan karya Berlin dan Kay (1969), anggapan ini tidak akan bertahan lebih lama. Tes lain untuk hipotesis ini sulit ditafsirkan untuk alasan yang sama (lihat Rosch, 1974).
a. Perbedaan Kosa Kata (Differentiation of Vocabulary)
Sebagai eviden, bahasa mempengaruhi pikiran, Whorf selalu mengemukakn fakta bahwa, satu bahasa mempunyai banyak kata dlaam ranah tertentu ketimbang lainnya. Misalnya, eskimo mempunyai empat kata untuk salju snow (Boas, 1911), sedangkan Inggris dan Aztec hanya memilki satu kata. Tetapi perbedaan ini mungkin hanya merupakan pantulan perbedaan keahlian. Eskima dipengaruhi oleh ekologis yang berkenaan dengan catatan dan nama jenis salju yang berbeda, dimana orang Aztec di Meksiko tidak. Variasi yang sama dapat terjadi dalam bahasa. Dalam bahasa Inggris, ahli ski mempunyai kata yang terinci; yang khusus untuk salju ‘snow’ –powderr, corn, ice dn sejenisnya- dimana bagi kita hanya mengenal ‘snow’.
b. Memori (Memory) Carmichael, Hogan, dan Walter (1966) mengatakan bahwa dalam memori, bahasa dapat mempengaruhi pikiran. Mereka menggambarkan bahwa sekelompok orang menuliskan sederetan garis-garis, setiap garis diberi satu atau lebih label. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan dalam mengingat symbol-simbol dan label-label tersebut.
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas maka ditarik kesimpulan bahwa bahasa mengatasi atau melebihi semua alat komunikasi dan sebagai alat, ia harus menyesuaikan diri dengan pemakaian yang dibutuhkannya dari padanya. Apakah bahasa itu bahasa Inggris, Hungaria, bahasa itu harus mampu menyatakan gagasan tertentu, pengalaman presepsi, hubungan sosial dan fakta teknologis pada waktu yang bersamaan, ia harus menyesuaikan diri dengn keterbatasan manusia- keterbatasan ingatan mereka dan bahkan cara pembentukan telinga dan mulut mereka. Namun bahasa hanya mengambil bentuk tertentu dan hal ini dipantulkan dalam kesemestaan bahasa. Misalnya istilah warna dasar dalam semua bahasa digambarkan dari hirarki hanya 11 kata warna. Hirarki ini menimbulkan kemenonjolan psikologis warna tertentu dalam sestem visual. Nama-nama obyek alamiah dan buatan manusia dalam semua bahasa termasuk hirarki kategori. Hirarki ini menimbulkan proses mental oleh banyak obyek yang diklasifikasikan menurut ciri-ciri yang dimiliki bersama. Nama-nama bentuk dan istilah ruang dalam bahasa masih memantulkan karakteristik sistem persepsi yang lain. Kesemestaan lain memantulkan proses pikiran abstrak yang mengutamakan tunggal dari jamak, positif dari negatif, kala kini dan kala lampau atau kala mendatang, dan seterusnya. Masih pada kesemetaan lain, seperti istilah kekerabatan dan kata ganti orang memantulkan realitas masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Clark & Clark. 1977. Psychology and Language. An Introduction to Psycholinguistics. New York: Harcout Brace Jovanovich, Inc.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar